Click for more pictures
Salah satu berita hasil tampilan Metro TV tertanggal 11 Juli 2007 adalah liputan mengenai restoran di Taiwan yang menyediakan hidangan ikan goreng yang masih hidup. Ikan berukuran besar (entah jenis ikan apa) di masukkan ke dalam penggorengan dengan minyak menggelegak hanya dari bagian ekor hingga pangkal leher sementara bagian kepala dilindungi agar tidak ikut tergoreng. Kemudian ikan tersebut disiapkan dalam nampan dan dilumuri saus bersama berbagai jenis sayuran pelengkap. Tanpa menggoreng bagian kepala membuat ikan masih dapat hidup selama kurang dari 30 menit dan bergerak-gerak sementara bagian tubuhnya yang sudah matang disantap dengan gembiranya oleh pelanggan restauran.
Membayangkan perasaan si ikan yang hanya bisa menggeleparkan kepala saat tubuhnya digoreng dan dicuili dengan sumpit beramai-ramai, menderitakan rasa sakit sampai menemui ajal. Aduh, rasanya tidak sanggup mencernanya dengan kepala dingin. Mungkin alasan itu pula yang mendorong para koki di Taiwan menolak memasak masakan serupa, terlalu kejam.
Fenomena ini pastinya dianggap kecil dan abai, toh itu hanya persoalan ikan yang memang kodratnya dimakan oleh manusia. Apapun caranya toh mereka akan mati dalam penggorengan juga. Namun satu hal yang perlu di garis bawahi adalah maraknya kegemaran menyakiti yang tumbuh dalam masyarakat saat ini. Keinginan mencari kegiatan unik telah menciptakan gaya hidup tersendiri yang umumnya tidak lagi melalui alur yang lumrah. Menikmati kekejaman yang awalnya hanya diwujudkan dalam hal-hal kecil tentu saja dapat berkembang dengan cepat menjadi kerusakan dan kekejaman dalam skala yang besar, sebab bibitnya tetap sama yaitu berada di dalam akal dan hati manusia juga.
Sementara penyebaran informasi negatif ditunjang dengan maraknya media massa yang membombardir hari-hari kita dengan berita-berita aneh berulang-ulang. Hal-hal yang tadinya tidak pernah terbayangkan ternyata pernah terjadi di belahan bumi lainnya, sehingga ketika hal serupa terjadi pada lingkungan sendiri dengan mudah akan dianggap normal dan biasa.
Kemudian menjadi bingung bagaimana harus bereaksi melihat keanehan jika keanehan itu sendiri diberdayakan sedemikian rupa menjadi budaya baru?
Posted at 01:56 pm by
Qeong_Ungu
 |  |  |
dessi November 12, 2007 10:03 AM PST
duuh baca ceritanya aku sampe meringis gak tega.... Dilihat dari anatomi, psikologi dan dari segi biologisnya, ikan mampu ngerasain sakit. Apalagi didukung dengan adanya sistem syaraf yang sama rumitnya dengan yang dimiliki oleh mamalia dan burung-burungan. Ketika ikan ditangkap dan diangkat dari dalam air, ikan ngerasain sakit yang sangat luar biasa akibat gak bisa nafas dan mereka mati secara perlahan dan nyakitin. Tapi gak jarang juga, ikan masih hidup dan sadar pas kepala dan perut mereka disobek pisau dapur.. duh kejamnya tuh orang |
 |

 |  |  |
Qeong Ungu August 1, 2007 09:46 AM PDT
Qee yg ga suka makan ikan, sukanya makan iko khkehekheh... |
 |

 |  |  |
Iko July 31, 2007 04:26 PM PDT
Ikan,.. itu makanan fav. Iko lho...
Tapi kalo memasak ikan secara hidup2,... gak tega untuk memakannya... |
 |

 |  |  |
Qeong Ungu July 16, 2007 09:16 AM PDT
@landy
Itu beneran ada, hanya saja saya belum nemu link ke berita itu via web. Kebetulan juga liat di tivi, ga sengaja.
@tito
Beneran Pak dokter, iya..sadis..dan amat sangat setuju, makanya lahirlah tulisan ini ^_^
@Name
Iya mbak, ternyata ada. Wong mbunuh manusia aja bisa,, apalagi cuma nyiksa ikan. |
 |

 |  |  |
Name July 15, 2007 09:53 PM PDT
kok ada jg ya orang yang tega gitu... |
 |

 |  |  |
tito July 15, 2007 12:28 AM PDT
itu beneran?!! sadis amat! gak setuju!! |
 |

 |  |  |
landy July 14, 2007 07:34 PM PDT
aduh itu beneran nya , aku gak lihat, kok teganya itu orang :( |
 |