Click for more pictures
Desa Curup adalah tempat tinggal
ibu Siti Aisyah. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu 2 jam berkendara
dari kota Bogor menuju Kecamatan Cilandak, kemudian berjalan kaki
selama 3 jam dari Cilandak ke desa Curup. jika hari cukup cerah itu
artinya masih ada kesempatan untuk mencari angkutan berupa ojek dengan
harga 50 ribu rupiah, sehingga perjalanan yang harus di tempuh dengan
jalan kaki selama 3 jam bisa dipersingkat menjadi hanya 2 jam. Namun
jika hari hujan desa ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki,
menumpang pada gerobak sapi yang kebetulan lewat, atau sarana manual
lainnya.
Dulunya, aku percaya bahwa
mata uang 25 rupiah sudah tidak ada harganya. Meskipun aku tahu bahwa
di Indonesia ini masih ada daerah-daerah yang belum dialiri listrik
tapi aku percaya bahwa harga makanan misalkan nasi campur pastilah
tidak ada yang lebih murah dari 2000 rupiah untuk ukuran porsi manusia
dewasa. Tapi kepercayaanku diruntuhkan oleh penuturan Ibu Aisyah dalam
bahasa campuran Sunda-Indonesia suatu malam di bawah temaram lampu
emergency (yeah..kali ini aku tidak akan mengeluh soal betapa
menyebalkannya PLN). Malam itu beliau menceritakan sekelumit fakta
tentang desanya.
Di desa
Curup (atau seperti itu kurang lebih pelafalannya) hanya ada satu
sekolah tingkat dasar negeri, sehingga siswanya datang dari berbagai
dusun. Tidak ada siswa yang tidak diterima bersekolah disana sebab
tidak ada pilihan lain. Untuk berangkat ke sekolah anak-anak
menggunakan sepeda, dan cucu-cucu Ibu Aisyah sendiri harus menempuh
perjalanan bersepeda selama 2 jam hanya untuk sampai ke sekolah.
Setelah lulus dari SD anak laki-laki akan langsung membantu orang tua
bekerja di sawah, sementara anak perempuan dinikahkan dengan mengikuti
perjodohan dari orang tua. Tidak ada anak yang melanjutkan ke jenjang
SMP apalagi SMA sebab memang tidak ada sekolah pada tingkatan tersebut
di desa ini. Satu-satunya pilihan bagi anak perempuan adalah menerima
lamaran. Sehingga tidak heran saat usia muda para wanita sudah memiliki
anak, dan ketika usia mereka setara dengan usia wanita yang tinggal di
kota memutuskan menikah mereka malah sudah memiliki cucu bahkan
cicit. Biasanya setelah
menikah dan memiliki anak para wanita pergi bekerja ke kota Jakarta
atau Bogor demi memenuhi kebutuhan keluarga. Satu-satunya lapangan
pekerjaan bagi mereka adalah menjadi pembantu rumah tangga, sebab
kebanyakan dari mereka masih buta huruf. Sementara sang suami tetap
tinggal di desa merawat anak dan menggarap ladang.
Tenaga
guru yang tersedia tidak mampu mencukupi kebutuhan pendidikan murid
yang begitu banyak. Ketika hari cerah dan hampir semua murid datang
dari berbagai dusun, sekolah akan penuh sesak dan mereka akan membangun
tenda di luar kelas untuk menampung kelebihan siswa. Di desa ini hanya
ada 3 guru tetap (dan salah satunya adalah kepala sekolah) dan 2
pegawai honorer yang diangkat menjadi pengajar begitu mereka lulus SMP
di kota. Jadi jangan bayangkan mutu, untuk kuantitas saja sudah tidak
memadai.
Harga
barang-barang kebutuhan pokok sangatlah murah, dan hampir bisa
dipastikan tidak mengikuti fluktuasi pasar Indonesia meskipun desa ini
termasuk bagian dari negara Indonesia. Perekonomiannya terisolasi
sebagaimana keadaan desa itu sendiri. Harga nasi campur per bungkusnya
hanya Rp 700, harga beras per kilogram hanya Rp 1000. Untuk kebuutuhan
seperti minyak makan warga mengolahnya sendiri dari buah kelapa, untuk
kebutuhan beras mereka menanam sendiri, sayuranpun ditanam sendiri.
Sedangkan ikan mereka peroleh dari kolam masing-masing. Para wanita
hanya pergi ke pasar cukup 3 kali dalam setahun. Pasar yang biasa
didatangi adalah pasar Tanah Abang di jakarta maupun pasar pasar di
kota Bogor. Namun jangan dikira mereka berbelanja banyak barang saat di
pasar, aku pun terkejut mendengar bahwa barang-barang yang dibeli hanya
berupa ikan asin setidaknya 5 kg, garam
paling banyak 3 kg, dan minyak tanah beberapa liter sebab
kebutuhan lainnya sudah terpenuhi dari hasil ladang mereka sendiri.
Sementara barang-barang seperti pakaian dan perkakas rumah tangga
mereka beli setahun sekali menjelang bulan Ramadhan sekalian untuk
persiapan hari raya Idul Fitri.
Harga
kambing per ekornya hanya sekitar Rp 50.000 sehingga menjelang hari
raya Idul Adha tiap tahunnya berbondong-bondong warga muslim dari kota
besar seperrti Jakarta dan Bogor datang ke desa untuk membeli hewan
ternak dari warga. Dengan harga yang begitu murah mereka rela datang
dari jauh dan menginap di sembarang tempat seperti di masjid atau balai
desa demi mendapatkan hewan qurban dengan harga beli murah. Jika hewan
saja bisa semurah itu bagaimana dnegan barang yang lebih sederhana?
hmm...Jajanan seperti pisang goreng hanya seharga Rp 25 per 2 buah, dan
aku tercengang mendengar bahwa mata uang Rp 25 benar-benar masih ada
dan masih sangat berguna.
Tidak
tersedianya listrik membuat mereka jauh dari yang namanya hiburan dan
efek negatif pertelevisian. Budaya dalam keseharian baik dalam hal adat
maupun kesopanan tetap terjaga dengan baik. Jika kita yang hidup di
kota besar punya mimpi mengawang-awang soal masa depan, maka mereka
-orang orang yang dipenuhi kesederhanaan ini- punya mimpi yang cukup
terbatas dan tidak muluk-muluk, yaitu punya rumah,sawah dan
ternak.
Saat
orang-orang di kota besar tidak lagi perduli pada apa yang dilakukan
para pemimpin mereka, di desa ini pemimpin adalah sebenar-benarnya
panutan yang patut dipatuhi dan dihormati. Peranan kepala desa, lurah
hingga bupati yang biasanya bagiku hanya terlihat ideal dari drama TV
(didengarkan dan dipatuhi oleh segenap warga seantero wilayah
kepemimpinannya) ternyata memang berwujud nyata di desa ini. Sebab
warga butuh pegangan dan para pemimpinlah tempatnya. Jadi maklumlah
jika mereka begitu menyukai kepala desa yang bisa memberikan mereka
tontonan layar tancap beberapa bulan sekali, atau meletakkan televisi
beberapa minggu sekali di halaman rumah agar dapat ditonton warga
dengan tenaga aki.
Sebagai
orang yang juga bekerja dalam bidang pendidikan tidak putus akalku
berfikir tentang bagaimana mekanisme sekolah yang ada di desa itu.
Bagaimana mereka dapat mendata siswa maupun guru dan menyerahkannya ke
dinas terkait, sebab data adalah satu-satunya alat untuk memperoleh
berbagai fasilitas seperti sarana dan prasarana, dana penunjang baik
mutu pendidikan maupun kesejahteraan guru, dan berbagai fasilitas
lainnya. Juga bagaimana mereka menyelenggarakan ujian serta tertib
administrasi. Ah...rasanya sulit sekali masuk di akal jika aku tidak
pernah merasakan sendiri hidup di tempat seperti itu.
Seandainya kisah ini adalah cermin, dengan begini bayangan
apa yang terpantul dari cermin yang dihadapkan pada negeri kita ini?
Bayangan betapa luasnya negeri tercinta Indonesia ini kah...atau
bayangan betapa masih jauh kita dari yang namanya
'merdeka'?...
Ternyata negeri entah berantah seperti itu masih
ada....