Click for more pictures
Dibawah udara kering hasil kerja sang mentari sebuah botol air mineral berpindah tangan, atas transaksi singkat dan sederhana mengenai kebutuhan. Sang botol mineral adalah alasan untuk bertahan dari teriknya hari, agar si empunya tetap berada pada batas kesadaran normal manusia yang sedang berperjalanan. Dan juga sebagai alasan si pedagang melanjutkan modal hari esok.
Dari dinginnya lemari es menuju kemewahan pesawat terbang, dalam hitungan jam telah berpindah dari etalase toko menuju negeri nun jauh di seberang lautan. Sang air menikmati perjalanannya dan menciptakan sejarahnya sendiri. Sedikit demi sedikit merembes membasahi tenggorokan pemiliknya, menciptakan kesejukan sesuai yang diperlukan. Sang botol memandangi hiruk pikuk dunia dari balik genggaman jari. Menonton tayangan langsung kesibukan dan kesusahan. Berpindah pindah dari satu keramaian pada keramaian lainnya.
Pada satu titik waktu sampailah sang botol pada kehampaan dari fungsi sebelumnya, menyangga sang air. Kemudian berpindah posisi dalam sekejap dari hangatnya genggaman tangan menjadi pengapnya kolong gerbong kereta. Dalam hitungan menit sebuah sapu lidi mengibasnya tanpa ampun. Digiring oleh pria berkaki buntung dengan sapu lidi beraksi membersihkan tiap sisi tersembunyi gerbong kereta. Tangannya menengadah kekanan dan kekiri memohon kesediaan orang lain bersedekah demi menyambung hidup atas jasanya membersihkan lantai kereta. Membersihkan lantai dari botol-botol kosong yang berserakan adalah alasan untuk hidup, dan para botol itu membantunya.
Dari pengapnya gerbong kereta yang melaju kencang kini sang botol terhempas berguling guling di ruas-ruas rel. Berdesakan diantara batu-batu. Namun persembunyian tidak sengajanya tidak dapat bertahan lama ketika kaki-kaki kumuh mendekat. Bersama besi bengkok kini berpindah ke punggung pria yg baru saja mendekat. Bersama botol-botol lain berguncangan mencapai suatu tujuan, sebagai alasan untuk mendapatkan modal pengisi perut. Ditengah jalan rupanya sang pemilik harus mencari kawan lain bagi para botol kosong. Keranjang lusuh itu diletakkan begitu saja dibawah pohon, diantara jejeran pedagang kaki lima di sebuah situs wisata. Tiba-tiba sebuah tangan hitam legam terbakar mentari menggenggam sang botol dengan erat. Sebuah teriakan menghentikan genggamannya. Demikianlah perebutan kepemilikan tidak berlanjut, sebab salah satu pihak menyadari bahwa botol tersebut adalah alasan untuk hidup, bukan untuk mati.
Di tanah padat ini, botol kosong adalah sebuah pelengkap cerita, sebuah penggenap nominal biaya pertahanan menyambung nyawa, sebab musabab sebuah perkelahian dan sebuah alasan untuk memenuhi kebutuhan.
Sementara disisi lain botol baru berisi air mineral penuh telah berpindah tangan. Dibawah terik mentari menjadi alasan untuk dapat mempertahankan kesadaran pada batas normal orang yang sedang berperjalanan. Dipandangi lekat-lekat beberapa pasang mata, berharap botol kosong tidak pergi kemana-mana. Namun kali ini kemewahan menyambutnya, dalam genggaman menuju bandar udara. Dalam hitungan jam berpindah dari tanah beraroma kesibukan menuju negeri nun jauh di seberang lautan. Pada titik akhir fungsinya menjaga air, tergeletak begitu saja disebuah tempat penampungan wilayah pemukiman. Tanpa diperebutkan, tanpa diinginkan, juga tanpa mejadi alasan bagi keberlangsungan hidup orang lain. Bersama angin dan hujan melunturkan keanggunan. Di negeri aman tentram ini, botol kosong bukan pelengkap cerita, dia bukan siapa siapa.
Qee, terdesak untuk berani
Depok, 7 Juni 2007