Click for more pictures
Cobaan hidup dan kesengsaraan jika berlangsung terus menerus umumnya menghilangkan kemampuan diri sendiri untuk ribut. Tenggelam dalam keinginan untuk diam, dan terpaksa sabar. Ya, terpaksa sabar sebab tidak seorangpun menginginkan kehidupan yang tidak nyaman. Memilih untuk tenang karena memicu keributan hanya kan membuang energi percuma. Hanya akan menimbulkan masalah seputar perihal yang itu itu saja.
Pada satu sisi, si pelaku merasa bahwa dirinya sudah sepenuh kemampuan menciptakan pribadi yang sabar dan tenang. Kesabaran sempurna yang paling sesuai untuk dirinya dalam kehidupannya sehari-hari. Keadaan seperti apapun yang pada umumnya dapat menimbulkan rasa tidak senang maupun sebal tidak akan banyak berpengaruh padanya, sebab selama ini sudah terbiasa dengan kesulitan dan bisa bersabar, jadi kenapa kali ini harus membuang energi percuma.
Keadaan jadi berbeda justru saat harus menghadapi sesuatu atau seseorang yang memicu kepedulian. Rasa ingin membuat segalanya berjalan beres memicu munculnya pribadi yang sesungguhnya. Dengan tanpa disadari memunculkan kekerasan kepalanya mempertahankan ide dan status diri. Menyangkal seandainya dikatakan keras kepala sebab baginya selama ini sudah tertempa kesabaran begitu rupa, sehingga mustahil rasanya kalau masih ada sifat keras kepala dalam diri.
Kemampuannya melatih kepekaan dalam memposisikan diri meningkat pesat. Menjadi seorang ahli dalam hal 'tidak dalam posisi salah' tapi juga tetap kokoh berdiri pada posisi yang 'tidak mutlak benar'. Segala pertanyaan maupun opini yang berkenaan dengan diri dan sifatnya yang keluar dari orang lain mental begiu saja, sebab keinginan membuka diri tanpa disadari sudah tidak ada. 'Tau apa orang lain tentang itu'. Sekali lagi,
tidak disadari dan pasti disangkal.
Keinginannya melindungi maupun perduli malah menimbulkan benteng tebal transparan. Bisa dilihat ada apa dibaliknya, tapi sama sekali tak tertembus. Sehingga tanpa disadari orang lain akan berpikir dengan sendirinya, 'memangnya siapa saya'.
Tapi sebenarnya tidak sulit jadi orang seperti itu. Yang sulit adalah memahami orang seperti itu, tapi tidak bisa mengatakan 'aku mengerti' dengan mudah. Berurusan dengannya hanya akan menimbulkan ketegangan boros energi. Sebab semua yang tertumpuk sebagai pemahaman tidak bisa disampaikan dengan mudah. Sangat menyulitkan jika tau benar seandainya bicara begini pasti dijawab begini, dan kalau itu yang dikatakan maka begitulah jawabannya. Akhirnya memutuskan untuk tidak bicara.
Meski sesekali ingin rasanya tidak melulu bersikap tua, berekspresi sesuai usia. Pura pura tidak tau akan sifat orang yg diajak bicara dan tidak bisa memprediksi apa yang akan dikatakannya. Supaya pembicaraan lebih sederhana, kalau tidak dikatakan tidak dan kalau iya dikatakan iya. Bisa leluasa marah sesuai moment dan bisa mengutarakan apapun tanpa kebanyakan pertimbangan. Tapi ujung ujungnya selalu putus asa, sebab yang ingin disampaikan biasanya tidak usai dan pembahasan malah berkeliaran kesana kemari. Memunculkan perdebatan yang tidak berguna. Lalu sebal karena tidak dimengerti,
.lalu sebal karena usaha membuat mengerti terpental dari jalurnya
.
Gagal total menumpahkan isi kepala, apalagi kalau keduanya sama sama kepala batu.
FIUH
susah betul mengurus tubuh perempuan...