Click for more pictures
Mimpi, semestinya bukan hanya bunga tidur. Bentuk maya dari
visualisasi angan angan semata, tidak nyata dan tidak bernilai apa apa. Mimpi
semestinya lebih istimewa dari itu, lebih berperan aktif dalam kehidupan si
empunya mimpi.
Impian adalah motivasi, atau setidaknya demikianlah
seharusnya. Berisi bayangan bayangan atas rencana maupun harapan yang belum
bernilai nyata. Impian adalah gambaran detail atas satu atau banyak tujuan yang
ingin dicapai. Karena impian adalah kekayaan, properti pribadi paling private
dalam pikiran tiap orang.
Ketika kepala sudah dipenuhi impian, bertumpuk mendesak
hampir meluap, inilah pertanda bahwa tangan dan kaki harus bergerak. Bahwa
mimpi adalah energi, itu yang harus dimengerti. Dan energi ini tidak akan
pernah hilang, kecuali berubah bentuk..bertransformasi. Maka itulah saat dimana
pergerakan harus dilakukan secara nyata, dalam bentuk perbuatan dan memberi
hasil. Agar segenap energi yang meluap luap bisa disalurkan pada saat dan
tempat yang tepat.
Selama kaki dan tangan belum tercabut dari tempatnya, selama
akal masih bisa bekerja dengan baik membuat pertimbangan berguna, tidak ada
alasan untuk diam pura pura. Pura pura tidak butuh mimpi, pura pura tidak butuh
menyalurkan energi. Karena berdiam diri tanpa tujuan sama juga artinya mati tak
terselamatkan. Mati dalam dinamisasi yang sudah secara alami dimiliki, mati
dalam rangkaian sosial, dan mati dalam kemampuan mempertahankan diri.
Kesempatan selalu bisa diciptakan, tapi nilainya tidak
selalu sama. Keberhasilan tidak melulu datang dua kali, karena kematangan jiwa
setiap saat pasti bertambah. Jadi mari bergerak. Membiasakan lentur fisik dan
hati, siap dalam segala situasi. Membentuk dan mempergunakan kesempatan yang
pada dasarnya kita sendiri pemrakarsanya. Menoleh kiri kanan sewaktu waktu,
lalu mencerna apa yang sebenarnya kita miliki. Mengenali diri sendiri sedalam
dalamnya, dan membuaka mata atas ketidak mampuan yang sebenarnya bukan hambatan
melainkan rem otomatis agar tidak terjerembab pada posisi yang tidak
menguntungkan.
Merasa kaya dan merasa beruntung. Kaya akan keinginan serta
cita cita, dan beruntung karena masih punya kesempatan melakukannya. Seandainya
tujuan menjadi tingkatan sulit untuk diraih, kenapa tidak berorientasi saja
pada proses. Sebab proses adalah kelas nyata, tempat belajar siapa saja yang
ingin kaya.
Jadi apa saja yang dibutuhkan? Tekad atau nekat? ^_^
Tunggu aku,…..dengan kemampuan seadanya
ini.