Click for more picturesDia tidak memiliki keturunan karena satu alasan, dia tidak
menikah. Dan dia tidak menikah karena seribu satu alasan. Di usia yang
menjelang senja, kehidupan pribadinya tetap dijalani sendirian, meskipun
kehidupan sosial cukup sempurna. Bekerja dan memiliki kawan, hidup dalam
keluarga besar dengan orang tua, saudara saudari, ipar, keponakan yang banyak
hingga cucu. Tapi dia tidak punya keluarga utuh miliknya sendiri, meski rumah
besar tempatnya tinggal dipetak petak berbatas pintu yang banyak jumlahnya
sesuai banyaknya jumlah kepala keluarga, namun petaknya sendiri tetap sepi.
Propertinya yang sudah ada sejak rumah ini berdiri hingga saat ini tetap ada
hanyalah tirai lusuh berwarna hijau lumut. Menggantung setia membatasi jendela
dengan cahaya mentari dari tempatnya disemat, lantai dua.
Angah, atau dalam bahasa Indonesia berarti paman. Dia adalah
paman dari putra putri saudara lelakinya yang setiap membutuhkan akan datang
padanya meminta recehan logam, dahulu di masa kecil. Dan sekarang saat para
keponakan sudah berkeluarga dan hidup dalam petak mereka masing masing,
kebiasaan lama tetap tiada terlepas dari kehidupannya. Dia tetap memberi, dan
bukan lagi uang receh, tapi lembaran lembaran dengan nilai lebih besar.
Anang, atau dalam bahasa Indonesia berarti anak laki-laki.
Dia adalah anak laki laki kedua yang merasa dan dibuat merasa harus bertanggung
jawab penuh untuk kesejahteraan ibundanya yang sudah renta. Meskipun ada kakak
lelaki namun sang kakak memiliki tanggung jawab menghidupi lebih banyak nyawa
dari dirinya, yaitu istri anak dan cucu.
Dia adalah ipar dari istri saudara lelakinya. Nyonya rumah
yang selalu menekankan bahwa sang ipar memiliki tanggung jawab moral berupa
menanggung kesejahteraan finansial. Demi para keponakan, demi kesejahteraan
kakak lelaki, demi kenyamanan sang nyonya rumah, dan demi ketentraman hatinya
sendiri agar tidak sekedar dianggap orang yang menumpang.
Tanggungannya, baik secara moril maupun materi, rupanya
sudah bertumpuk begitu lama. Mengendap padat dalam hati dan logikanya. Tersimpan
rapat dalam diamnya. Maka tak perlu baginya menambah beban baru bernama
keluarga. Karena sekian lama hidup dan menghidupi orang lain dirasa bukan lagi
kewajiban melainkan cita-cita. Agar orang lain senang, agar semua orang tenang.
Demikianlah dia mengenal kesetiaan, setia yang sebenar
benarnya setia. Setidaknya demikian dalam pandangannya.
Dan aku hanya bisa memandang kagum, tangan legam terbakar
matahari menggenggang segelas kopi, dari balik tirai robek jendela di atas
kepala.