Click for more pictures
"Mohon maaf yang sebesar besarnya, selama ini pasti aku sering berbuat salah sama kamu. Nanti waktu kamu kembali mungkin aku sudah nggak ada, mudah mudahan saja kamu selamat sampai tujuan, sampai kembali lagi kesini. Jaga diri ya, dan hati-hati. Mudah mudahan aku masih bisa liat kamu lagi."
Seorang wanita tua mengucapkan salam perpisahan terbata bata kepada seorang kerabatnya yang hendak berangkat menjenguk anaknya yang bekerja di Kalimantan. Tubuh rentanya habis digerogoti sel kanker yang bertumbuh kembang dalam rahim, mengikisnya satu demi satu menuju ajal yang makin dekat menjelang. Bayangan kematian saja sudah begitu mengerikan, ditambah lagi dengan perpisahan. Meski yang pergi hanyalah kerabat jauh, meski tidak akrab, meski kepergiannya tidak akan berpengaruh apa apa, meski
.
Namun perpisahan tetap saja perpisahan, pil pahit bagi keadaan psikologis si sakit. Dipan bambu tuanya saja yang setia menopang beban tubuhnya dalam bilik seederhana, di suatu desa di negeri ini.
Bagaimanakah rasanya, mengetahui tanggal kematian? Bagaimanakah rasanya, mengetahui dengan pasti bahwa dalam tubuh yang menopang kehidupan sekian lama tersimpan monster ganas bukan kepalang, mendekatkan waktu menuju kesendirian dan kehancuran dalam rumah masa depan?
Seperti apa bentuk rasa sakit itu? Sakit di hati dan sakit di tubuh.
Penyesalan pasti datang bertubi tubi, makin melemahkan tekad dengan fakta bahwa semestinya sejak awal kemalangan ini bisa dideteksi. Menyesali betapa lalainya diri sendiri terhadap keadaan kesehatan dan betapa minimnya daya tanggap keluarga disekitar. Betapa sakitnya hati menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menyerah kepada nasib.
Betapa sempit dunia tampaknya, betapa tidak adil alam memperlakukan. Betapa menyakitkan melihat terbatasnya kata kata yang mampu diutarakan, dan betapa terbatasnya waktu untuk mengutarakan kata kata. Mimpi menguap meninggalkan kekosongan, tiada lagi cita cita melainkan tinggal wasiat duka. Itupun jika ada yang bisa diwasiatkan selain nasehat entah bijak entah memihak. Bukankah dalam kekalutan kendali otak tidak lagi jelas dimana batasnya.
Betapa pahitnya bermimpi dalam awang awang merasakan kebebasan sebagaimana sedia kala ketika menyadari bahwa bermimpi saja bukan lagi menjadi hak. Harus kembali menghadapi fakta bahwa bahkan tubuh tak mampu lagi berdiri berpijak. Betapa jauh dari keberuntungan.
Dan lalu menyerah
.
Bahwa aku sudah tua
Bahwa sudah waktunya untuk pergi
Qee, meraba rasa seorang kerabat di desa nun jauh dari maraknya teknologi dan pengetahuan.