Click for more pictures
Tangan si pemuda begitu sigap membolak balik kue dagangannya di penggorengan. Membungkusnya dengan rapi, dua..dua..dua.. sampai lengkap. Dia tahu bagaimana cara mengemas dengan baik, mengikat dengan benar, dan dia tau dimana dia menaruh uang sehingga memudahkan memberikan kembalian pada pelanggannya. Dia tahu apa yang harus digerakkan, karena sama seperti hari hari sebelumnya, berulang untuk perihal yang sama. Dia bergerak begitu cepatnya, dengan ketepatan yang tidak diragukan sehingga kegiatan melayani begitu menyita energi. Pihak yang dilayanipun merasa lega melihat dirinya tidak diabaikan oleh pemberi jasa.
Menurut teorinya, ketika hal yang sama berulang sendiri, sebenarnya terbentuk suatu medanmedan morfik inilah yang meningkatkan kemungkinan berulangnya peristiwa*. Umumnya kita kenal sebagai pembiasaan, kebiasaan, membiasakan. Lalu bagaimana bisa jadi terbiasa?
morfik, dan resonansi dengan
Saat pertama kali belajar mengayuh sepeda, betapa kakunya otot otot kaki dan lengan. Berkali kali jatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuh, belum lagi menyesuaikan ritme ayunan kaki dengan kondisi medan latihan yang mungkin saja adalah jalan berlubang. Dengan tekun penuh konsentrasi dan kesabaran, akhirnya menit demi menit menjadi mulai terbiasa. Kekakuan bisa dikurangi, akal dan tubuh perlahan mulai sejalan.
Inilah saat dimana anggota tubuh bergerak berulang, menggetarkan gelombang yang kemudian saling beresonansi pada medan morfik. Maka jadilah hasil akhir berupa pembiasaan dan kemampuan. Tidak perlu lagi mengayuh sepeda dengan berfikir terlebih dahulu maupun sibuk menyeimbangkan tubuh. Medan morfik memainkan peran luar biasa, tak terlihat namun begitu berdampak.
Dalam skala yang lebih besar, dapat dilihat sebagai contoh nyata adalah kecelakaan di bidang yang sama. Pesawat terbang celaka beriringan, pergerakan bumi yang terus menerus, kematian manusia dengan cara tidak manusiawi secara beruntun, kejahatan yang semakin meningkat, hingga berbagai kekacauan lainnya.
Setiap benda mengeluarkan gelombang suara, hanya karena kita tidak mendengarnya bukan berarti tidak ada. Semestinyalah mulai disadari, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bukan karena segalanya BISA dikerjakan, tetapi karena kita terlalu sempit MEMAHAMI yang namanya kemungkinan.
Jadi jangan menangis dua kali, jangan terluka dua kali, jangan hancur dua kali. Sebab gelombang morfik akan bersinggungan, menggetarkan semesta secara alami, menyeret kita dalam kekelaman yang sama.
Jangan lakukan…karena semua akan kembali…berulang…berulang…berulang…
*) Dikutip dari buku karangan Masaru Emoto: The Hidden Messages in Water [hal:55]. Teori Medan Morfik diutarakan pertama kali oleh Dr. Rupert Sheldrake dari Inggris.