Click for more pictures
: R
Terkadang tercipta satu keputusan tanpa diskusi antara hati dan akal terlebih dahulu. Tapi peristiwa seperti itu memang ada.
Suatu kali aku mencoba mendaki bukit. Bukit yang belum pernah sekalipun ku lihat. Kumulai perjalanan dengan riang dan bahagia. Akan menemui pengalaman baru, begitu harapku. Akan melihat tempat-tempat asing namun memukau, begitu harapku. Kemudian, perlengkapan terbaik dibawa. Belajar kesana kemari mengendap-ngendap untuk dapat rahasia bertahan secara mental dan fisik. Melahap informasi apa saja, kemudian menyaring dan menggunakan yang paling sesuai dengan diriku. Saat dirasa siap, maka dimulailah perjalanan berbekal semangat.
Aku sendirian, kupikir memang tidak butuh teman. Bukankah jalannya juga tidak berliku, hanya karena terlalu banyak jalan rahasia yang belum dikenali artinya aku harus lebih bereksplorasi.
Aku sangat senang, sangat riang. Bermain dengan batu, kerikil, ranting-ranting, pohon, bunga, hewan, apa saja.
Bertanya pada serangga; sedang apa kalian disini?. Bertanya pada aliran sungai; kalian mengalir untuk siapa?. Kemudian bertanya
.bertanya pada
. bertanya pada diriku sendiri; untuk apa kamu disini??
Gila! Ini sudah setengah jalan. Kenapa justru muncul pertanyaan yang memberatkan di saat seperti ini. Melihat kebawah rasanya ngeri. Sepertinya aku akan tergelundung jatuh kalau mencoba turun, jatuh dengan cepat seperti sepeda dengan rem blong. Lalu serta merta luka dan marah-marah. Ngapain juga dulu di mulai? Bukankah lebih baik diam di bawah tanpa keinginan yang muluk-muluk.
Tapi aku pikir lagi, toh itu masa lampau. Meski baru berlalu beberapa saat, intinya tetap suatu yang sudah lewat dan tidak bisa dikembalikan. Jadi aku biarkan saja, lebih menyenangkan hidup dengan impian dan keputusan.
Aku mendongak melihat ke puncak bukit. Masih jauh, masih tampak perjalanan melelahkan. Tapi apa yang kucari? ada apa disana?. Merenung sejenak, dan..yah..aku tahu!. Justru yang membuat aku terus naik adalah; 'ada apa disana'. Disana ada sesuatu, aku akan cari tau apa itu.
Sampai saat ini aku masih di tengah jalan. Belajar paham kenapa aku sendirian. Bertikai dengan diri sendiri yang kadang-kadang menganggap diri terlalu rendah dan terlalu tidak mampu untuk dapat teman. Jadi lamat-lamat kuteruskan saja perjalanan sambil menunduk. Supaya pikiran tetap fokus dan tidak mengawang-awang kesana-kemari.
Kalau mau berkarya, ya berkarya saja. Tidak usah repot sama praduga. Itu kesimpulannya.
Ya beginilah jadinya. Hasil akhir berupa diriku. Diriku yang begitu mencintai diri sendiri karena menyukai dirimu. I like you with quite a few reasons till I can't answer if you ask; why.
(tertulis Oktober 2006)