Click for more picturesQee, lihat langitnya! Pelan pelan kembali punya warna, background indah buat benda sepanjang semesta. Gelap terang sempurna, Qee!. Berarak awan kembali pada posisinya, seakan tiada terjadi apa apa.
Ya, Sayang!. Dan disana itu embun, berkilauan diterpa cahaya surya. Dedaunan melembut, luluh dan luruh kalah oleh kekuatan terhalus. Serangga berebut menikmati jatuhan rezeki, mencari yang termurni. Berebut kesempatan, berebut perolehan manfaat sebenar benarnya manfaat. Disana itu kelinci, mengais ngais tanah basah bertarung melawan ranting lapuk usia. Harta karunnya tersebar dimana mana, GRATIS! hanya butuh sedikit usaha alhasil bantuan lembut embun melumatkan kekakuan.
Bayangkan jika bisa kita peras awan awan kelabu itu! Tanganmu dan tanganku bergerak bersamaan di tiap ujung sisi jika awan memang punya penghujung. Seru sekali, Bukan! Kita angkat diatas kepala, mendongak merasakan tetesannya membasahi muka. Kita tertawa tawa atas tingkah yang memang tidak biasa itu, Qee! Coba bayangkan!
Tentu saja boleh kau biarkan akalmu mengembara kesana kemari untuk urusan yang kau anggap penting dan menginspirasi. Silakan saja, Manis! Aku akan menemanimu dengan senang hati.
Lalu semua bertambah lumat, Qee. Semakin lumer
meleleh
dan meleleh. Basah dan kalah!
Ya, dan aku akan tersenyum saja melihatmu.
Dan itu cangkangmu, Qee? Bersinar gemerlap disapu angin dan air? Sebegitu usangkah selama ini kau biarkan, tiada terawat pun tercuci?
Benar, Sayang!. Sudah waktunya mencuci, meluruhkan titik demi titik noda. Betapa ingin menganggapnya tidak berguna, sayang! Namun suatu dusta jika sejarah dianggap tidak ada. Maka biarkan hujan dari kokohnya awan membantuku merontokkan kotoran satu per satu. Berilah jalan pada angin lewat celah ranting mengalir lembut lewati cangkangku. Biar kilap kembali warnanya, biar tidak mempermalukan diri dihadapan mata makhluk lainnya.
Lalu ini, Qee. Apa gerangan nan berkilau jatuh beraturan satu satu? Bening turun perlahan menuju ketiadaan tanah basah. Benarkah tiada, Qee? Bukankah dia hanya bertransformasi menuju bentuk lain, jadi kian bermanfaat untuk yang lain pula?
Tepat, Sayang! Ini air mata. Larutan yang mencuci diriku lahir batin lewati metabolisme begitu rupa. Tetesan air yang hanya berubah wujudnya saja dari beningnya embun di atas kepalaku, kembali menjadi embun di bawah kakiku.
monolog senja