Click for more pictures
Seorang ibu (dengan usia yang memang sudah pantas menjadi
ibu) duduk santai dalam sebuah kumpulan para ibu di depan warung sembako.
Beliau ini orang yang pendiam, jadi meskipun terlibat dalam club rumpi tapi
perannya lebih banyak sebagai pendengar dan penonton saja. Pembawaannya yang
terlampau tenang (dan terkenal malas) membuatnya selalu ketinggalan berita (dan
dia tidak peduli).
Anak si Ibu, seorang putri berumur 2 tahun sedang bermain
sendirian diantara semak dan bunga-bunga. Semak dan kumpulan bunga ini adalah
milikku, di halaman depan rumahku. Ibuku yang melihat dari dalam rumah serta
merta keluar dan menyampaikan begini pada si Ibu: Mbak Ani, itu lho si Salva
main di rumput, awas, disitu banyak semut gatal, dengan harapan si Ibu segera
'menyelamatkan' anaknya dari kemungkinan berbahaya. Tapi sayangnya ibuku hanya
mendengar kalimat begini: Salva....jangan main disitu nak! Banyak semut!
(itupun dengan nada suara yang malas), tanpa sedikitpun beranjak dari tempat
duduknya. Tidak lama kemudian Salva menjerit keras dan menangis. Tapi respon
apa yang diberikan sang Ibu? Ini yang mengejutkanku, beliau berkata dengan
lantang tapi malas: Tu sih!! Kapoookk!! Sudah dikasih tau banyak semut nda
percaya!. Lho??
Salva sendiri sangat pendiam (bahkan hampir tidak pernah
bicara). Emosi satu satunya yang dia tau hanya menangis, senyumpun jarang.
Orang tuanya pendiam, keluarga besar tempat dia tinggal tidak saling
menyayangi. Paman dan Bibinya senang mencubit pahanya hingga menangis,
tangisannya dibuat permainan asik bagi orang dewasa. Terlalu banyak orang yang
tinggal di rumah kecil itu sehingga selalu kotor dan berbau tidak sedap. Sepupu
sepupunya yang lebih besar senang menjadikannya korban gigitan, cakaran,
ataupun rebutan mainan hanya karena dia tidak bisa melawan. Kalimat yang dia
mengerti adalah hardikan, perintah dan makian, karena itulah yang didengarnya
sepanjang hari sepanjang hidupnya yang masih sangat sebentar.
Dalam usia sedemikian rasanya tidak wajar jika Salva
dianggap tidak percaya perkataan orang tua, bukankah dia belum mengenal apa itu
percaya. Sangat tidak adil membiarkannya mengambil tindakan sendiri untuk
melindungi tubuhnya sementara dia belum tau apa itu bahaya dan apa itu
perlindungan diri. Si ibu tidak memberikan hal hal yang dibutuhkan Salva secara
proporsional misalnya perlindungan, ajakan untuk berkomunikasi, juga perasaan
aman. Alih alih mendapatkan pakaian yang baik, kebersihan tubuhnya dengan cara
mandi yang benar saja malas dilakukan oleh ibunya. Jadi bisa dikatakan si Ibu
belum melakukan perannya sebagai ibu secara proporsional.
Begitu beratkah menjadi orang yang bisa menyikapi segala hal
secara proporsional?. Padahal jika di sederhanakan ini hanya soal porsi, mana
jatah yang bisa kita berikan dan terima sesuai pada tempatnya.
Suatu hari adik perempuanku yang baru berumur 13 tahun
ditinggal berdua saja denganku dirumah. Hujan turun sangat lebat saat itu.
Adikku ini terkenal cuek, serampangan tidak seperti anak gadis pada umumnya.
Tubuhnya tinggi, padat berisi dan sangat kuat meski tidak gemuk. Nah, tiba tiba
hari itu dia mendekatiku yang sedang tenang membaca. Dengan muka mesam mesem,
takut takut tapi nekat dia berkata Mba, aku mandi hujan, Ya?. Tadinya aku
siap menolak, habisnya jika dilihat lihat kok tidak pas sekali badan sebesar itu
masih mandi hujan seperti anak kecil. Tapi sekejap kemudian aku tersadar, bahwa
adikku ini masih muda, masih butuh kesenangan sederhana, masih suka bermain
tidak perduli seberapa besar tubuhnya dan seberapapun sok dewasanya dia, anak
kecil ya tetap anak kecil. Akhirnya kuanggukkan kepala, dengan syarat dia hanya
boleh bermain di dekat drum disamping rumah yang tertutup pepohonan. Bisa gawat
kalau dia bermain dihalaman rumah dengan baju menempel erat ditekan air hujan
lalu ada tetangga yang lewat (tentu saja ini tidak kuutarakan sejujur itu
padanya).
Betapa pentingnya menyikapi suatu permasalahan secara
proporsional dan betapa bermanfaatnya jika suatu masalah disikapi secara
proporsional.