Click for more picturesBerjarak beberapa rumah dari tempatku tinggal, hidup seorang
wanita tua yang kami panggil Bu Gendut. Dulu, suaminya juga kami panggil Pak
Gendut karena badannya sangat gendut dengan perut buncit. Pada tahun 1991 Pak
Gendut meninggal dunia karena komplikasi penyakit(dan aku yang waktu itu baru
berumur 6 tahun ketakutan setengah mati melihat mobil jenazah). Bu Gendut
tinggal berdua saja dengan seorang anak angkat perempuannya (mereka tidak
memiliki anak kandung) di rumah yang sekaligus menjadi toko sembako dan jajanan
anak anak sejak dulu. Setelah sekian tahun akhirnya si anak menikah dan pindah
ke kota lain mengikuti suami. Dia hanya datang saat liburan sekolah membawa
anak anaknya yang seingatku ada dua orang menjenguk si nenek.
Bertahun tahun mengelola tokonya sendirian, Bu Gendut dibuat
sangat sibuk karena pada masa itu warung masihlah sedikit. Lalu entah sejak
kapan beliau membawa seorang pemuda dari Jawa untuk menjaga warungnya.
Seingatku aku tidak suka pemuda ini, karena aku memang penakut dan sikapnya pada
pembeli -terlebih anak kecil- tidak ramah. Gunjinganpun mulai santer sana sini,
karena meskipun si pemuda hanya anak ingusan tetap saja dia tinggal dan
dibiayai oleh seorang janda.
Dan entah kapan ternyata mereka menikah di Jawa, sehingga
ketika kembali ke kota ini mereka sudah menjadi pasangan sah suami istri.
Lingkungan mulai terasa lebih tentram dari omongan tidak baik dan mereka
mengelola warung berdua seperti biasa. Namun masa bahagia itu hanya sekejap.
Saat ini Bu Gendut sudah sangat tua, pikun, dan tubuhnya
yang dulu amat sangat gemuk berubah drastis menjadi amat sangat kurus.
Pakaiannya yang dulu dirancang khusus untuk ukuran tubuh super besarnya
sekarang berubah fungsi menjadi hanya sekedar penutup daging dan tulang
rentanya, menggelayut tidak pas di tubuh dan sangat kumuh. Penyakit berdatangan
tanpa henti, sementara anak angkatnya yang tidak setuju dengan keputusan Ibu
menikah sudah tidak pernah muncul lagi, mungkin juga terjadi perkara besar yang
membuatnya dengan terpaksa menjauh dari Ibu yang telah membesarkannya.
Sang suami yang saat ini bekerja sebagai supir jarang pulang
ke rumah, dan sering sekali terlihat ditempat tempat yang membawa efek negatif
bersama perempuan lain.Warung istrinya sudah musnah karena terus menerus
digerogoti hasilnya demi judi dan minuman keras. Kerapkali dia pulang dengan
wajah merah, kemudian terlibat pertengkaran heboh dengan sang istri. Suatu hari
para tetangga melaporkan padanya bahwa Ibu pingsan di tengah jalan saat hendak
keluar gang (kebetulan juga aku yang menemukan beliau di gelap malam dan
kalang kabut mencari pertolongan). Hasilnya si suami merasa malu dan
memperlakukan si istri dengan lebih buruk lagi.
Sudah lama aku tidak melihat suami Bu Gendut, sementara si
ibu sudah sangat lemah. Hutang dengan penjual sayur keliling sudah menumpuk
sementara suaminya tidak pulang. Mungkin dia berniat memasakkan sesuatu untuk
suaminya jika dia pulang, padahal suaminya tidak juga pulang, dan padahal untuk
berdiri saja beliau sudah sangat sulit. Setiap hari beliau duduk di kursi rotan
lusuh di teras rumahnya (yang tertulis 'Dijual tapi tetap belum terbeli)
dengan mata sayu sering terpejam, amat sangat nelangsa. Tiap berangkat bekerja
aku selalu menyapanya, dan sepulang dari kantor di sore haripun beliau masih
juga duduk ditempat yang sama, minta disapa, minta diperhatikan.
Ketidaknyamanan hidupnya saat ini pastilah disebabkan oleh
keputusan masa lalu. Padahal keputusan sendiri adalah opsi terbuka, bisa
disetujui dan dilakukan, bisa juga ditinggalkan. Opsi yang berisi berbagai
macam pilihan kemungkinan, berasal dari kita dan hasil akhirnya juga untuk
kita.