Click for more pictures :d
Selama masih bisa menemukan fakta bahwa orang itu tidak terdidik dengan baik, tidak punya kecerdasan yang memadai, maka seburuk apapun disakiti setidaknya masih punya tameng logika dalam diri. Tuduhan tidak mendasar apapun bentuknya bisa menguap dari memori setelah sekian waktu, hanya berbekas sebagai pengalaman, bukan kenangan.
"Itu hanya karena dia tidak mengerti", atau "itu hanya karena dia tidak menyadari kebodohannya", atau yang paling pas ya kalimat seperti "Yang ngomong itu orang edan, jadi kalau melawan berarti sama edannya"
Namun jadi berbeda ceritanya jika kegiatan menyakiti itu dilakukan oleh orang yang kompeten, berilmu, bermartabat dan terpandang. Di benak pernah terbayangkan bahwa sosok ini akan menjadi panutan, menjadi idola suatu hari nanti. Diandai andaikan bahwa suatu saat akan ada kesempatan untuk mencari ilmu dari tangannya.
Kemudian impian itu terjungkir balik hanya dengan beberapa menit perbincangan yang menyudutkan.
Tameng apa yang harus dipakai untuk melindungi kami berdua dari prasangka? Betapa aku tidak ingin menyakitinya dengan kemarahanku, tapi dengan apa aku harus melindungi dia dari kemurkaanku sendiri?
Aku kehilangan ide, aku kehilangan segala daya untuk mengarang sebentuk kalimat apapun demi menutupi luka yang muncrat merembesi diriku sendiri. Bukan untuk melawan, tapi untuk berlindung dan mengobati.
Mencoba bernegosiasi dengan logika, bahwa penyebabnya adalah diri sendiri pada awalnya. Namun kembali lagi terpuruk pada fakta mengejutkan....orang yang diharapkan lebih bijaksana ternyata orang itu pula yang menciptakan ketimpangan. Timpang karena complaintnya hanya berdasar satu sudut pandang, timpang karena hanya mengeluarkan statement ketidaksenangannya sendiri saja, pincang karena aku bahkan tidak tau bahwa aku adalah penyebab masalah sementara dia sudah siap dengan strateginya menyingkirkan sumber masalah.
Aku marah karena menjadi bagian permasalahan yang tidak berguna.
"Kita memang harus bisa melupakan hal yang benar benar harus dilupakan", kata bijak suatu kala. Tapi sampai kinipun lupa yang biasanya mudah datang tidak juga menghampiri.