“Met tidurya”
Begitulah bunyi sms dari seorang kenalanku, tanpa ditambah
maupun dikurangi satu karakterpun. Sekilas tampak biasa, tapi ada hal yang
sangat menggangguku yaitu jumlah spasi yang tidak seimbang dan kurangnya tanda
baca. Bukankah semestinya bunyinya begini: “Met tidur ya!”
Spasi dan tanda baca adalah hal sepele, setidaknya bagi
kebanyakan orang. Namun pada tahap tertentu dapat mengakibatkan kesalahpahaman,
dan ini sering sekali terjadi. Tanda baca dan spasi diciptakan untuk
menyempurnakan maksud yang ada dalam tulisan, agar apa yang ingin disampaikan
bisa diterima sesuai maksud yang sebenarnya. Namun kebanyakan dari kita tidak
begitu memperdulikannya. “Anggap aja salah tulis, toh kita ngerti juga apa
maksudnya”, begitu pada umumnya kita berpendapat. Namun benarkah sesederhana
itu pemahamannya?
Pada dasarnya dalam menyampaikan sebuah informasi kita
selalu mengharapkan informasi yang keluar dari kita akan diterima utuh dan
sesuai dengan maksud sebenarnya oleh si penerima informasi. Untuk itu kita
harus berusaha menyampaikan informasi tersebut dengan cara yang benar agar
memudahkan si penerima menyimpulkan maksud yang terkandung didalamnya. Salah
satu usaha tersebut dapat berupa penulisan yang tepat baik karakter, spasi
maupun tanda baca.
Daya upaya dalam menyampaikan maksud secara baik adalah
cerminan diri sendiri, yang menunjukkan bahwa kita peduli pada kesempurnaan.
Peduli pada kesempurnaan bukan selalu berarti harus jadi sempurna, tapi lebih
kepada keinginan dalam diri untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain. Dengan
kata lain usaha kita untuk membuat orang lain mengerti adalah usaha untuk
memberikan yang terbaik pada orang lain, meski hanya lewat untaian kata-kata
sederhana.
Seorang kenalanku yang lainnya pernah berkata: “Qee, dunia
sms adalah dunia yang terkotak kotak dan tidak utuh”. Definisi yang demikian
memberiku gambaran dalam sempitnya dunia kata, kita tetap punya kesempatan
untuk memberi sebaik yang dibutuhkan orang lain. Cara kita selama ini
menganggap hal kecil menjadi sepele semakin menjauhkan kita dari perbaikan.
Terus menerus memaklumi dan minta dimaklumi, telah menciptakan lubang yang
makin besar dalam cermin kita sendiri.
Qee,
Banjarmasin
Posted at 12:15 pm by
Qeong_Ungu