Click for more pictures
Orang tua adalah paket, setidaknya demikianlah Qee memandang
selama ini. Orang tua adalah paket, diluar dari istilah lengkap atau tidak,
hanya ada ibu atau bapak. Pokoknya yang namanya orang tua adalah sebentuk
paket. Dilengkapi dengan ilmu, yang belakangan Qee ketahui sebagai pengajaran,
lengkap dengan rasa aman yang disebut perlindungan. Pada paket ini terdapat rasa
yang begitu menggugah hati sehingga apapun yang terjadi terlepas dari baik atau
buruk perlakukan kita selalu pulang padanya, dan belakangan Qee tau itu adalah
cinta dan kasih sayang.
Sementara anak sendiri adalah paket yang jauh berbeda makna
dan fungsinya. Qee menerjemahkan paket orang tua sebagai pelindung sementara
anak adalah paket yang minta perlindungan. Keduanya ada untuk saling melengkapi,
saling mengisi. Paket anak anak berisi keluguan, berisi masalah masalah sepele,
maupun pelajaran pelajaran yang diberikan oleh paket orang tua.
Anak anak punya permasalahannya sendiri, dan kalaupun Qee
menganggap orang tua punya permasalahan, maka itu adalah dunia mereka, dunia
yang tidak tersentuh oleh paket anak anak. Pemikiran demikian menjauhkan Qee
dari kerepotan untuk memahami orang tua dan dunia mereka. Jika diibaratkan
sebagai orang yang akan pergi menjelajah, bagi Qee sudah semestinya jika orang
ingin pergi camping maka perlengkapan yang dibawapun haruslah memadai. Sehingga
Qee menganggap orang tua adalah paket komplit yang pastilah mampu menangani
kehidupannya sendiri dengan baik. Dan kalaupun suatu saat paket anak ingin
meminjam maupun meminta salah satu perlengkapan yang ada dalam paket mereka maka
orang tua berada pada posisi wajib memberi dengan senang dan rela hati.
Jika divisualisasikan sebagaimana kecendrungan kebutuhan Qee
untuk memahami segala sesuatu, maka kedua paket ini kira kira berbentuk begini:
Paket orang tua adalah jelli bening yang bercahaya.
Bentuknya tidak tetap namun tidak bercerai berai. Fleksibel ke segala arah
namun mantap dan terang.
Sementara paket anak anak adalah kristal kristal warna warni
yang selalu bereksplorasi membentuk warna baru yang lebih meriah. Kadang kadang
paket anak kehabisan bahan, sehingga sesekali paket dewasa mencuil dirinya
sendiri dan diberika kepada paket anak untuk kemudian diolah menjadi warna baru
yang lebih cerah.
Dalam pandangan Qee keduanya amat jauh berbeda. Meskipun
saling mempengaruhi tapi sungguh berbeda. Pada akhirnya ketika lambat laun Qee
diperlihatkan pada dunia yang sebenarnya, keterkejutan dan rasa tidak percaya
menjadi begitu dominan.
Pada kenyataannya paket anak akan bertumbuh menuju level
yang lebih tinggi, dan disebut kedewasaan. Lalu paket anak akan bertransformasi
menjadi jelli jelli bening yang disebut orang tua, bukankah nanti si anak akan
menjadi orang tua juga?
Disinilah kebingungan Qee bercampur baur menjadi rasa heran.
Bagaimana bisa kristal menjadi jelli? Lalu kemana warna warninya? Kemana?
Bagaimana bisa? Mengapa harus?
Mengapa harus anak anak menjadi dewasa, mengapa harus yang
dewasa melahirkan anak anak. Lucu memang, jika dihubungkan dengan realita yang
sudah disepakati umum, bahwa manusia berada dalam sebuah siklus yang terus
bergulir.
Qee masih tidak bisa memahami bahwa anak anak bisa menjadi
dewasa, dan yang dewasa pun pernah menjadi anak anak, bisa bersikap sebagai
anak, dan pernah merasakan siklus sebagai paket anak yang dilindungi dan
disayangi. Tua renta adalah tua renta, Qee tidak bisa membayangkan bahwa yang
tua renta juga dulunya adalah anak anak.
Dan kenapa Qee harus termasuk dalam siklus yang sama, punya
tanggung jawab dan perilaku yang sama?
Sebenarnya apa yang Qee cari? Sebuah pemahaman ataukah sekedar imajinasi? Entahlah
.
Qee,
Banjarmasin