
Bersikap adil terhadap lingkungan yang terbiasa dengan ketidak adilan dengan tetap bersikap adil sementara sedang berada dalam lingkungan yang hampir tidak menjunjung tinggi keadilan, adalah dua hal yang berbeda.
Keadaan demikian tercipta ketika diri dituntut untuk membuat keputusan sementara hati terus berpegang teguh dalam sikap adil terhadap lingkungan yang terbiasa dan membiasakan diri berenang renang dalam ketimpangan, yang bagi mereka terasa nyaman dan tidak melawan arus. Sebagimana kita ketahui bahwa ketika sekelompok orang memutuskan memakan cokelat sementara kita sendiri yang ingin makan strawbery, dengan sendirinya perasaan terasing akan timbul, dan akhirnya ikut ikutan orang banyak memakan cokelat hanya karena takut dianggap berbeda, dianggap aneh.
Berdepan dengan kata terhadap, berarti kita boleh mendefinisikan bahwa kita punya posisi yang cukup baik untuk menghadapi, menangani, artinya bisa dan boleh membuat keputusan. Punya kekuasaan dan kesempatan untuk mengatur, membuat keputusan, mengarahkan dan lain sebagainya. Namun membuat keputusan berdasarkan nilai adil bukanlah hal yang mudah jika tidak didukung oleh lingkungan. Menjadi berbeda, aneh, tidak umum, dan ujung-ujungnya pasti menerima berbagai macam protes, tuduhan maupun serangan argumentasi yang lebih banyak tidak relevant dengan persoalan yang sedang dihadapi.
Sementara berada dalam cenderung menunjukkan bahwa kita sedang sendirian dalam keramaian orang orang, yang dalam pembahasan ini adalah orang orang yang lebih senang menjunjung tinggi nilai "pokoknya saya harus dapat". Sendirian berpikir tentang membuat keputusan terbaik, mempengaruhi orang orang yang berwenang agar dapat mengikuti prosedur yang benar, mengumpulkan segenggam kekuatan untuk bertahan dari arus serangan pihak pihak yang tidak menyenangi perbuatan kita, dan lain sebagainya. Belum lagi anggapan dan tanggapan yang tidak sesuai keinginan, lalu wira wiri lagi mencari dukungan agar apapun yang diusahakan jadi tidak sia sia. Sungguh sebuah perjuangan yang melelahkan.
Keduanya mengantar kita pada pengalaman, memenuhi diri kita dengan pengetahuan, serta melatih kepekaan dalam membuat pertimbangan. Tapi tentu tidak dapat dipungkiri bahwa proses tersebut bukanlah mudah untuk dilewati. Bisa saja saat menerima 'kejahatan' dihadapan mata lalu tersenyum kecil menertawakan ketimpangan yang dijunjung tinggi pihak musuh itu tanpa logika, namun dibalik itu rasa sakit dan kecewanya tentu sesuai kodratnya tetap harus mengalir memenuhi seluruh rongga dalam tubuh. Ruang ruang dalam kepala penuh sesak dengan emosi entah terkendali entah tidak.
Meski pada dasarnya setiap keputusan pasti diikuti tanggung jawab atas resiko, namun keputusan bersikap adil adalah salah satu yang menuai resiko paling banyak dan paling besar. Bisa berupa alasan kesetaraan hak dan kewajiban.Entah kenapa di dunia ini ketimpangan lebih ramai dikerubuti massa daripada adil yang bernilai positif.