“Kalau hari ini di kantongmu kamu Cuma punya Rp 10.000, pakai uangmu itu
untuk beli barang berguna yang kamu inginkan. Kalau kamu mati besok, setidaknya
kamu gak nyesal!”, begitu selalu kata Ithem soal duit.
Terkadang aku pergi berbelanja atau sekedar makan di tempat-tempat yang
menjual barang dan jasanya dengan harga agak sedikit mahal. Bukan untuk ’pasang
aksi’ namun semata-mata untuk memuaskan diri sendiri. Tentu tidak sering, dan
yang kubelanjakanpun benda-benda yang berguna untukku.
Sejak kecil ibuku tidak pernah melarang kami anak-anaknya untuk
membelanjakan uang kami sendiri untuk membeli apapun yang kami inginkan.
Beliaupun memberi contoh dengan tidak segan sesekali membelikan kami makanan
kecil yang banyak diiklankan di televisi saat ada lebihan uang, meskipun jika
dikalkulasi semestinya uang tersebut setara untuk membeli nasi dan lauknya
sekaligus. Beliau mencontohkan bahwa kadang-kadang kita boleh saja memuaskan
diri sendiri dengan hal-hal yang tidak biasa namun bukan berarti boros, dan
dengan bahasaku aku menyebutnya ’kenyamanan yang efisien’.
Belakangan ini aku sering memperhatikan anak-anak kecil disekitarku.
Awalnya adalah ketika aku melihat tiga anak bersaudara yang tinggal tepat
didepan rumahku, Della (11), Fandi (7) dan Zidan (5). Suatu sore sepulang kerja
aku mendapati Zidan sedang duduk nelongso di atas bangku kaya di gang kami,
sementara teman-temannya sibuk bermain disekitarnya. Setelah diperhatikan
ternyata dia sedang memandangi seorang penjual bubur ketan yang sedang melayani
anak kecil yang terus menerus menyodorkan mangkuknya. Rupanya si Zidan ingin
sekali membeli bubur itu namun dia tidak berani meminta uang kepada orang
tuanya.
Keesokan harinya kakaknya, Fandi, melihat pedagang keripik singkong
keliling saat sedang bermain. Bergegas dia lari pulang meminta uang kepada
ibunya, namun sang ibu menjawab dengan ketus ”Minta sama Bapakmu sana!”.
Kudengar samar samar suara Fandi yang merengek meminta uang Rp 1.000 kepada si
Bapak. Tapi bapaknya yang seorang penjahit kampung ini ternyata tidak mau
memberi dan hanya diam pura-pura tidak mendengar rengekan si anak. Lama-lama
Fandi menangis sesenggukan sambil terus bergelayutan di baju bapaknya. Dengan
kesal akhirnya si bapak menyerahkan uang yang diminta, lalu Fandipun berlari
mengejar pedagang keripik.
Ini bukanlah kejadian satu atau kedua kalinya saja, tapi terjadi setiap
hari. Ibu mereka yang membuka warung kecil dirumahnya sengaja tidak menjual
cemilan anak-anak karena tidak mau meladeni kemauan anak-anaknya yang selalu
ingin menikmati makanan kecil. Untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa itu
anak-anaknya harus menangis meraung-raung terlebih dahulu, dan baru akan
mendapat apa yang mereka inginkan setelah orang tuanya bosan mendengarerangan
mereka dan akhirnya mengomel sebelum memberikan uang.
Seingatku ketika kami masih kecil Ibuku sangat khawatir jikalau
anak-anaknya ini bermain dirumah teman, beliau takut seandainya kami melihat
anak-anak lain memakan cemilan enak sementara kami tidak diberi (dan banyak
sekali anak yang tidak diajari memberi). Ibuku takut kami ’ngiler’ pada benda
milik orang lain. Beliau pernah berkata ”Anak yang cepat ngiler ngeliat makanan
punya temannya itu berarti dia gak pernah disediain cemilan di kulkasnya. Jadi
karena Mama sudah sering belikan kamu wafer wafer mahal kamu jangan suka minta
punya temanmu, ya. Tapi kalau kamu makan wafer terus ada temanmu, harus kamu
bagi!”.
Pesan itu terendap dalam benak kami hingga dewasa. Meskipun tidak bisa
menangani masalah banyak anak, tapi sesekali jika ingin berbelanja kuajak Della
bersamaku. Dalam keterbatasanku sendiri aku berusaha agar dia dan adik adiknya
bisa kubelikan makanan yang tidak pernah dibelikan ibunya sendiri. Agar mereka
bisa menikmati makanan enak yang biasanya hanya bisa dilihat dari televisi.
Atau sesekali mengajaknya ketempat-tempat yang biasanya hanya bisa dibayangkan.
Setiap hari ada saja anak anak kecil para tetangga yang bergerombol masuk
rumah kami yang tanpa pagar ini. Tujuannya hanya satu, yaitu menonton adikku
yang sedang bermain game di PC. Aku dan orang tuaku tentu tidak pernah melarang
mereka asal mereka tidak berisik dan membawa benda benda kotor atau berkelahi.
Aku tidak suka jika mereka hanya bisa melongo atau iri melihat teman mereka
yang kaya memamerkan kalau mereka sudah pernah bermain game ini game itu. Atau
memamerkan mereka sudah pernah makan ini makan itu. Meskipun tidak pernah
membiarkan mereka menyentuh alat elektronik di rumah kami tapi setidaknya
mereka tau ini lho game Harvest Moon, atau ini lho yang namanya Ragnarok
Online.
Jadi semestinya lawakan yang dibuat grup Bajaj di acara API yang lalu benar
adanya.
”Gwa gak ngiler kalo Cuma liat mobil mewah, gwa juga gak ngiler sama uang
banyak. Gwa ngilernya kalo tidur miring aja!!!”