Seorang kenalanku bekerja pada bidang remote service food. Tugasnya adalah menyediakan pangan bagi karyawan perusahaan tambang yang berada di lokasi-lokasi tertentu. Banyak dari mereka adalah expatriat dari berbagai negara. Amerika, Australia, Brazil, dan lain lain.
Aku belum pernah bicara banyak dengan kenalanku ini, tapi aku mendapat kesan bahwa dia bukanlah orang yang sopan. Meskipun tidak merasa dilecehkan tapi aku juga tidak merasa dihormati saat berbincang dengannya. Baru kemudian aku tau sikapnya itu dipengaruhi oleh kesehariannya dalam lingkungan kerja. Dia sangat berantipati dengan para bule yang disebutnya sebagai ’tikus putih’ atau white mouse (sorry Madam and Mister, I’m just telling a story, OK!)
Kawanku ini sangat tidak setuju dengan budaya mereka yang tidak mengenal rasa malu dan harga diri, cenderung emosional dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Rasa tidak setuju ini dalam sekejap berubah menjadi tidak suka. Tidak suka jika tidak dihormati sebagai sesama pekerja, tidak suka dianggap orang pribumi yang tidak tau apa-apa, tidak suka dengan cara bicara mereka yang tidak sopan, dan berbagai tidak suka lainnya.
Dari tidak suka lalu muncullah perasaan ingin, dan harus melawan. Demi melindungi harga dirinya sendiri dia kemudian bertransformasi menjadi penduduk pribumi yang bersikap dan berkata-kata hampir seperti orang bule yang tidak disukainya.
”Masa’ aku dipanggil sama bule yang cewe itu, nah pas aku masuk kamarnya eh sekalinya dia cuma pakai bikini. Udah gitu gak langsung berberes, malah cuek aja. Pintu juga gak pernah dikunci. Jorok banget tau gak! Lagipula cara mereka ngomong itu bener-bener kasar. Jadi ya sekarang aku juga ngomongnya kasar sama mereka. Toh mereka cuek juga ko.”.
Di satu sisi aku berprihatin dengan kesusahannya beradaptasi dengan lingkungan kerja tempatnya mencari nafkah. Namun disisi lain aku memandang bahwa saat ini dia sedang terjun dalam sebuah peperangan dimana dia jelas jelas tidak akan pernah menang tapi masih ngotot untuk terus bertarung. Budaya telah melekat sejak dilahirkan, maka tidak akan dengan mudah bisa diubah dan disesuaikan dengan lingkungan dimana dia berada. Namun kebingungan semacam itu mestinya bisa diminimalisir dengan pengertian yang cukup.
Marah dibalas marah hanya akan menghasilkan permusuhan. Melakukan ’balas dendam’ dengan berprilaku sama sepeti pihak yang tidak disukai bagiku malah menunjukkan kekalahan. Kehilangan budaya asli, kehilangan ketenangan, kehilangan jati diri yang sebenarnya, dan lebih parah lagi kehilangan lahan berperang. Bukankah yang dimarahi tidak tau kalau dia sedang dimarahi?
Menurutku ketidak setujuan tidak melulu harus dibalas aksi ’balas dendam’. Pernah suatu kali ketika aku sedang menyeberang jalan di tengah kota Singapura yang panas, aku berdiri tepat disebarang wanita Eropa yang juga sama-sama menunggu lampu hijau bagi pejalan kaki. Ketika kami mulai berjalan rupanya angin menyibakkan roknya yang berbelahan tinggi di bagian depan, maka nampaklah dimataku kaki putih mulusnya (meski bukan berniat menatap tapi dalam hitungan detik tentu masih sempat kulihat). Dan dengan perlahan dia kemudian menyampirkan kembali belahan roknya sambil menahannya dari angin dan terus berjalan. Akupun tersenyum dan agak mengangguk sedikit, mengucapkan terima kasih dalam kebisuan atas kesediaannya menghormatiku yang tidak berpakaian seperti dirinya. Jadi sebenarnya kita selalu punya kesempatan untuk merasakan apa itu pengertian, bahkan dalam sempitnya waktu saat sedang menyeberang jalan.
Suatu hari kantorku dikirimi kalender tahun 2007 dari kantor dinas pendidikan pusat, Jakarta. Bagian gambar penghias kalender penuh berisi dokumentasi kegiatan berbagai olimpiade yang dilaksanakan di tanah air. Dari beberapa olimpiade ada yang bertaraf Internasional karena disana terlihat foto-foto remaja asing memakai busana batik. Yang lucu adalah cara mereka memakainya, khususnya anak perempuan. Mereka mengenakan kemeja dari kain batik tapi tidak dimasukkan lurus dalam bagian pinggang rok, tapi dinaikkan ke perut dan diikat sehingga menampakkan bagian pusarnya. Ada juga yang memakai kamisol didalam, kemudian kancing bagian depan kemeja batiknya dibuka hingga ke dada.
Bagi anak Indonesia tentu cara ini sungguh tidak sopan, apalagi dalam lingkungan pendidikan. Namun tentu tidak begitu bagi anak-anak asing ini. Pakaian bukanlah bagian dari budaya malu, malu adalah ketika gagal meraih prestasi. Perbedaan ini tentu tidak dapat disatukan, hanya dapat dimengerti. Tapi bagiku yang paling lucu bukan si anak-anak bule penghias kalender, tapi para pembuat kalender ini dan pihak yang menerbitkannya. Kok bisa menerbitkan benda yang dibagikan ke seluruh sekolah di Indonesia dengan gambar siswi-siswi bertebar udel dalam lingkungan pendidikan. Apakah mereka juga korban perang??